Sabtu, 27 Juni 2015

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI EFEK SEDATIV



PERCOBAAN V
EFEK SEDATIF

I.         TUJUAN :
                        Untuk mempelajari pengaruh obat penekan susunan syaraf pusat.

II.      DASAR TEORI :
Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Umumnya, obat ini diberikan pada malam hari. Bila zat-zat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedatif (Tjay, 2002).
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP), mulai yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan , hingga yang berat (kecuali benzodiazepine) yaitu hilangnya kesadaran, koma dan mati bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi obat sedasi menekan aktifitas, menurunkan respons terhadap rangsangan dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis (H. Sarjono, Santoso dan Hadi R D., 1995). 
Pada penilaian kualitatif dari obat tidur, perlu diperhatikan faktor-faktor kinetik berikut: 
-          lama kerjanya obat dan berapa lama tinggal di dalam tubuh, 
-          pengaruhnya pada kegiatan esok hari, 
-          kecepatan mulai bekerjanya, 
-          bahaya timbulnya ketergantungan, 
-          efek "rebound” insomnia, 
-          pengaruhnya terhadap kualitas tidur, 
-          interaksi dengan otot-otot lain, 
-          toksisitas, terutama pada dosis berlebihan
(Tjay, 2002).
Sedatif menekan reaksi terhadap perangsangan, terutama rangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat. Hipnotik menyebabkan tidur yang sulit dibangunkan disertai penurunan refleks hingga kadang-kadang kehilangan tonus otot (Djamhuri, 1995). 
Hipnotika dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu benzodiazepin, contohnya: flurazepam, lorazepam, temazepam, triazolam; barbiturat, contohnya: fenobarbital, tiopental, butobarbital; hipnotik sedatif lain, contohnya: kloralhidrat, etklorvinol, glutetimid, metiprilon, meprobamat; dan alkohol (Ganiswarna dkk, 1995). 
Efek samping umum hipnotika mirip dengan efek samping morfin, yaitu: 
a.       depresi pernafasan, terutama pada dosis tinggi. Sifat ini paling ringan pada flurazepam dan zat-zat benzodiazepin lainnya, demikian pula pada kloralhidrat dan paraldehida; 
b.      tekanan darah menurun, terutama oleh barbiturat; 
c.       sembelit pada penggunaan lama, terutama barbiturat; 
d.      "hang over”, yaitu efek sisa pada keesokan harinya berupa mual, perasaan ringan di kepala dan termangu. 
Hal ini disebabkan karena banyak hipnotika bekerja panjang (plasma-t½-nya panjang), termasuk juga zat-zat benzodiazepin dan barbiturat yang disebut short-acting. Kebanyakan obat tidur bersifat lipofil, mudah melarut dan berkumulasi di jaringan lemak (Tjay, 2002).
Pada umumnya, semua senyawa benzodiazepin memiliki daya kerja yaitu khasiat anksiolitis, sedatif hipnotis, antikonvulsif dan daya relaksasi otot. Keuntungan obat ini dibandingkan dengan barbital dan obat tidur lainnya adalah tidak atau hampir tidak merintangi tidur. Dulu, obat ini diduga tidak menimbulkan toleransi, tetapi ternyata bahwa efek hipnotisnya semakin berkurang setelah pemakaian 1-2 minggu, seperti cepatnya menidurkan, serta memperpanjang dan memperdalam tidur (Tjay, 2002). 
Efek utama barbiturat adalah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hipnosis, berbagai tingkat anestesia, koma sampai dengan kematian. Efek hipnotiknya dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu. Fase tidur REM dipersingkat. Barbiturat sedikit menyebabkan sikap masa bodoh terhadap rangsangan luar (Ganiswarna dkk, 1995). 

Barbiturat tidak dapat mengurangi nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran. Pemberian obat barbiturat yang hampir menyebabkan tidur, dapat meningkatkan 20% ambang nyeri, sedangkan ambang rasa lainnya (raba, vibrasi dan sebagainya) tidak dipengaruhi. Pada beberapa individu dan dalam keadaan tertentu, misalnya adanya rasa nyeri, barbiturat tidak menyebabkan sedasi melainkan malah menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan delirium). Hal ini mungkin disebabkan adanya depresi pusat penghambatan (Ganiswarna dkk, 1995).



























III.   ALAT DAN BAHAN :
a.       Alat :
-          Keranjang
-          Spuit 1 ml
-          Stopwatch
-          Rotarod (batang berputar)

b.      Bahan :
-          CTM
-          Diazepam
-          Hewan uji : Mencit
























IV.   CARA KERJA :
MENCIT
 

-          1 kelompok besar dibagi menjadi 3 kelompok kecil, masing-masing mendapatkan 3 ekor mencit
-          Sebelum perlakuan mencit diletakkan terlebih dahulu di atas rotarod selama 10 menit untuk adaptasi
-          Hewan uji coba pada kelompok 1 tanpa obat, kelompok 2 diberi CTM secara P.O, dan kelompok 3 diberi diazepam secara P.O
-          Pada menit-menit ke-10, 15, 25, 40, dan 60mencit diletakkan di atas rotarod selama 2 menit
-          Catat berapa kali mencit terjatuh dari rotarod
HASIL
 
 

















V.      HASIL PRAKTIKUM :


PERLAKUAN
Tanpa Obat
CTM (p.o)
Diazepam (p.o)
Waktu
10
15
25
40
60
10
15
25
40
60
10
15
25
40
60
I
2
1
0
0
0
0,6
5
3
3
3
4
3,6
8
7
4
6
8
6,6
II
0
0
0
0
0
0
2
1
1
2
3
1,8
8
5
3
3
3
4,4
III
3
7
9
7
5
6,2
5
4
3
6
7
5
12
6
9
2
2
6,2


Grafik 1. Perlakuan tanpa obat

Grafik 2. Perlakuan dengan CTM
Grafik 3. Perlakuan dengan Diazepam

Langkah-langkah Pengujian

1.      Tabel Penolong

X1
X2
X3
X12
X22
X32

0,6
3,6
6,6
0,36
12,96
43,56
0
1,8
4,4
0
3,24
19,36
6,2
5
6,2
38,44
25
38,44

Tc
6,8
10,4
17,2



(Ʃx)2 = 34,4
Nc
3
3
3
N = 9
Ʃ kuadrat



38,8
41,2
101,36
Ʃ(x2)= 181,36

SST =
=  -
   =  
   =  
   =
   =
   = 146,25

SSE = Ʃ () – Ʃ
 = 181,36 –
 = 181,36 – 150,68
 = 30,68

SS Total = SST + SSE
 = 146,25 + 30,68
 = 176,93


2.      Tabel ANNOVA

Sumber keragaman
Jumlah kuadrat
Derajat bebas
Kuadrat tengah (1)/(2)
Antar perlakuan

SST= 146,25
dk1= k-1
       = 3-1
       = 2
MSTR = SST/dk 1
            =
            = 73,125
          
Kesalahan
(dalam perlakuan)
SSE= 30,68
dk2= N-k
       = 9-3
       = 6
MSE   = SSE/dk2
           =
           =  5,114
SS Total
176,93




F hitung =
               =
= 14,29

F tabel pada α = 0,05 dk1 = 2 dan dk2 = 9 adalah
F hitung (14,29) > F tabel (5,14)
Kesimpulan : Ho ditolak
Ada perbedaan yang nyata antara perlakuan tanpa obat, ctm dan diazepam













VI.   PEMBAHASAN :
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang realtif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat (kecuali benzodiazepin) yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung pada dosis. Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktivitas, menurunkan respons terhadap perangsangan emosi dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis.
Pada praktikum kali ini kita akan menggunakan obat CTM dan Diazepam. Diazepam adalah benzodiazepine yang sangat larut dalam lemak dan memiliki durasi kerja yang lebih panjang dibandingkan midazolam. Diazepam dilarutkan dengan pelarut organic (propilen glikol, sodium benzoat) karena tidak larut dalam air. Larutannya pekat dengan pH 6,6-6,9. Injeksi secra IV atau IM akan menyebabkan nyeri.
Farmakokinetik pada diazepam cepat diserap melalui saluran cerna dan mencapai puncaknya dalam 1 jam (15-30 menit pada anak-anak). Kelarutan lemaknya yang tinggi menyebabkan Vd diazepam lebih besar dan cepat mencapai otak dan jaringan terutama lemak. Diazepam juga dapat melewati plasenta dan terdapat dalam sirkulasi fetus.
Ikatan protein benzodiazepine berhubungan dengan tingginya kelarutan lemak. Diazepam dengan kelarutan lemak yang tinggi memiliki ikatan dengan protein plasma yang kuat. Sehingga pada pasien dengan konsentrasi protein plasma yang rendah, seperti pada cirrhosis hepatis, akan meningkatkan efek samping dari diazepam.
Kelompok 1 tanpa perlakuan obat, mencit pertama pada menit ke-10 dan ke-15 ada reaksi pada mencit yaitu jatuhnya dari alat rotarod, sedangkan pada mencit kedua sama sekali tidak ada reaksinya itu dikarenakan bobot mencit kedua terlalu ringan, lalu pada mencit ketiga itu ada reaksi dan jatuhnya paling banyak dari mencit pertama dikarenakan bobot mencit ketiga itu terlalu berat.
Kelompok 2 dengan obat CTM secara per oral, mencit pertama pada menit ke-10 itu mengalami penurunan lama-kelamaan akan mengalami kenaikan pada menit ke-60. Itu juga berlaku pada mencit kedua dan ketiga. Pada kelompok ketiga dengan obat diazepam secara per oral, mencit pertama pada menit ke-15 akan mengalami penurunan lalu padamenit ke-40 dan ke-60 akan mengalami kenaikan. Jadi disini antara obat CTM dan diazepam yang mempunyai efek sedative yang kuat yaitu diazepam.
































VII.     KESIMPULAN :
Pada paktikum kali ini kita dapat menyimpulkan sebagai berikut diantaranya yaitu :
1.      Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur.
2.      Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh obat penekan susunan syaraf pusat.
3.      Dari data pada kelompok di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian antara obat CTM dan diazepam itu efek yang paling kuat sedatifnya yaitu diazepam.
4.      Dari data ANNOVA, hasil yang diperoleh yaitu F hitung (14,29) > F tabel (5,14), Ho ditolak artinya ada perbedaan yang nyata antara perlakuan tanpa obat, ctm dan diazepam





















DAFTAR PUSTAKA
Tjay, T. H. dan Rahardja. K. (2002). Obat-Obat Penting. Edisi Kelima Cetakan Kedua. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
H. Sarjono, Santoso dan Hadi R D., 1995, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.
Djamhuri, Agus., 1995, Sinopsis Farmakologi dengan Terapan Khusus di Klinik dan Perawatan, Edisi 1, Cetakan Ketiga, Hipokrates, Jakarta.
Ganiswara, Sulistia G (Ed), 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. Balai Penerbit Falkultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.


























IX.   LAMPIRAN :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar