PERCOBAAN
V
EFEK
SEDATIF
I.
TUJUAN :
Untuk
mempelajari pengaruh obat penekan susunan syaraf pusat.
II.
DASAR TEORI :
Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat
yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur
dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Umumnya, obat ini diberikan pada malam
hari. Bila zat-zat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah
untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedatif (Tjay, 2002).
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat
depresan susunan saraf pusat (SSP), mulai yang ringan yaitu menyebabkan tenang
atau kantuk, menidurkan , hingga yang berat (kecuali benzodiazepine) yaitu
hilangnya kesadaran, koma dan mati bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi
obat sedasi menekan aktifitas, menurunkan respons terhadap rangsangan dan
menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta
mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis (H. Sarjono, Santoso dan
Hadi R D., 1995).
Pada penilaian kualitatif dari obat
tidur, perlu diperhatikan faktor-faktor kinetik berikut:
-
lama kerjanya obat dan
berapa lama tinggal di dalam tubuh,
-
pengaruhnya pada
kegiatan esok hari,
-
kecepatan mulai
bekerjanya,
-
bahaya timbulnya
ketergantungan,
-
efek "rebound”
insomnia,
-
pengaruhnya terhadap kualitas
tidur,
-
interaksi dengan
otot-otot lain,
-
toksisitas, terutama
pada dosis berlebihan
(Tjay, 2002).
(Tjay, 2002).
Sedatif menekan reaksi terhadap
perangsangan, terutama rangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat.
Hipnotik menyebabkan tidur yang sulit dibangunkan disertai penurunan refleks
hingga kadang-kadang kehilangan tonus otot (Djamhuri, 1995).
Hipnotika dapat dibagi menjadi beberapa
kelompok, yaitu benzodiazepin, contohnya: flurazepam, lorazepam, temazepam,
triazolam; barbiturat, contohnya: fenobarbital, tiopental, butobarbital;
hipnotik sedatif lain, contohnya: kloralhidrat, etklorvinol, glutetimid,
metiprilon, meprobamat; dan alkohol (Ganiswarna dkk, 1995).
Efek samping umum hipnotika mirip dengan
efek samping morfin, yaitu:
a. depresi
pernafasan, terutama pada dosis tinggi. Sifat ini paling ringan pada flurazepam
dan zat-zat benzodiazepin lainnya, demikian pula pada kloralhidrat dan
paraldehida;
b. tekanan
darah menurun, terutama oleh barbiturat;
c. sembelit
pada penggunaan lama, terutama barbiturat;
d. "hang
over”, yaitu efek sisa pada keesokan harinya berupa mual, perasaan ringan di
kepala dan termangu.
Hal ini disebabkan karena banyak
hipnotika bekerja panjang (plasma-t½-nya panjang), termasuk juga zat-zat
benzodiazepin dan barbiturat yang disebut short-acting. Kebanyakan obat tidur
bersifat lipofil, mudah melarut dan berkumulasi di jaringan lemak (Tjay, 2002).
Pada umumnya, semua senyawa
benzodiazepin memiliki daya kerja yaitu khasiat anksiolitis, sedatif hipnotis,
antikonvulsif dan daya relaksasi otot. Keuntungan obat ini dibandingkan dengan
barbital dan obat tidur lainnya adalah tidak atau hampir tidak merintangi
tidur. Dulu, obat ini diduga tidak menimbulkan toleransi, tetapi ternyata bahwa
efek hipnotisnya semakin berkurang setelah pemakaian 1-2 minggu, seperti
cepatnya menidurkan, serta memperpanjang dan memperdalam tidur (Tjay,
2002).
Efek utama barbiturat adalah depresi
SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hipnosis, berbagai
tingkat anestesia, koma sampai dengan kematian. Efek hipnotiknya dapat dicapai
dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur
fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu. Fase tidur REM dipersingkat.
Barbiturat sedikit menyebabkan sikap masa bodoh terhadap rangsangan luar
(Ganiswarna dkk, 1995).
Barbiturat tidak dapat mengurangi nyeri
tanpa disertai hilangnya kesadaran. Pemberian obat barbiturat yang hampir
menyebabkan tidur, dapat meningkatkan 20% ambang nyeri, sedangkan ambang rasa
lainnya (raba, vibrasi dan sebagainya) tidak dipengaruhi. Pada beberapa
individu dan dalam keadaan tertentu, misalnya adanya rasa nyeri, barbiturat
tidak menyebabkan sedasi melainkan malah menimbulkan eksitasi (kegelisahan dan
delirium). Hal ini mungkin disebabkan adanya depresi pusat penghambatan
(Ganiswarna dkk, 1995).
III.
ALAT DAN BAHAN :
a. Alat
:
-
Keranjang
-
Spuit 1 ml
-
Stopwatch
-
Rotarod (batang
berputar)
b. Bahan
:
-
CTM
-
Diazepam
-
Hewan uji : Mencit
IV.
CARA KERJA :
|
-
1 kelompok besar
dibagi menjadi 3 kelompok kecil, masing-masing mendapatkan 3 ekor mencit
-
Sebelum perlakuan
mencit diletakkan terlebih dahulu di atas rotarod selama 10 menit untuk
adaptasi
-
Hewan uji coba pada
kelompok 1 tanpa obat, kelompok 2 diberi CTM secara P.O, dan kelompok 3 diberi
diazepam secara P.O
-
Pada menit-menit ke-10,
15, 25, 40, dan 60mencit diletakkan di atas rotarod selama 2 menit
-
Catat berapa kali
mencit terjatuh dari rotarod
|
V.
HASIL PRAKTIKUM :
|
|
PERLAKUAN
|
|||||||||||||||||
|
Tanpa Obat
|
CTM (p.o)
|
Diazepam (p.o)
|
||||||||||||||||
|
Waktu
|
10
|
15
|
25
|
40
|
60
|
|
10
|
15
|
25
|
40
|
60
|
|
10
|
15
|
25
|
40
|
60
|
|
|
I
|
2
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0,6
|
5
|
3
|
3
|
3
|
4
|
3,6
|
8
|
7
|
4
|
6
|
8
|
6,6
|
|
II
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
2
|
1
|
1
|
2
|
3
|
1,8
|
8
|
5
|
3
|
3
|
3
|
4,4
|
|
III
|
3
|
7
|
9
|
7
|
5
|
6,2
|
5
|
4
|
3
|
6
|
7
|
5
|
12
|
6
|
9
|
2
|
2
|
6,2
|
Grafik
1. Perlakuan tanpa obat

Grafik
2. Perlakuan dengan CTM

Grafik
3. Perlakuan dengan Diazepam

Langkah-langkah
Pengujian
1. Tabel
Penolong
|
|
X1
|
X2
|
X3
|
X12
|
X22
|
X32
|
|
|
0,6
|
3,6
|
6,6
|
0,36
|
12,96
|
43,56
|
||
|
0
|
1,8
|
4,4
|
0
|
3,24
|
19,36
|
||
|
6,2
|
5
|
6,2
|
38,44
|
25
|
38,44
|
||
|
|
|||||||
|
Tc
|
6,8
|
10,4
|
17,2
|
|
|
|
(Ʃx)2
= 34,4
|
|
Nc
|
3
|
3
|
3
|
N =
9
|
|||
|
Ʃ kuadrat
|
|
|
|
38,8
|
41,2
|
101,36
|
Ʃ(x2)=
181,36
|
SST = 
=
- 
=
– 
=
— 
= 
= 
= 146,25
SSE = Ʃ (
)
– Ʃ 
= 181,36 – 
=
181,36 – 150,68
=
30,68
SS Total = SST + SSE
= 146,25 + 30,68
=
176,93
2. Tabel
ANNOVA
|
Sumber keragaman
|
Jumlah kuadrat
|
Derajat bebas
|
Kuadrat tengah
(1)/(2)
|
|
Antar perlakuan
|
SST= 146,25
|
dk1= k-1
= 3-1
= 2
|
MSTR = SST/dk 1
=
= 73,125
|
|
Kesalahan
(dalam perlakuan)
|
SSE= 30,68
|
dk2= N-k
= 9-3
= 6
|
MSE
= SSE/dk2
=
= 5,114
|
|
SS Total
|
176,93
|
|
|
F hitung = 
=

= 14,29
F tabel pada α = 0,05 dk1 =
2 dan dk2 = 9 adalah
F hitung (14,29)
> F tabel (5,14)
Kesimpulan : Ho ditolak
Ada
perbedaan yang nyata antara perlakuan tanpa obat, ctm dan diazepam
VI.
PEMBAHASAN :
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat
depresan susunan saraf pusat (SSP) yang realtif tidak selektif, mulai dari yang
ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat
(kecuali benzodiazepin) yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan
mati, bergantung pada dosis. Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktivitas,
menurunkan respons terhadap perangsangan emosi dan menenangkan. Obat hipnotik
menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai
tidur fisiologis.
Pada praktikum kali ini kita akan
menggunakan obat CTM dan Diazepam. Diazepam adalah benzodiazepine yang sangat
larut dalam lemak dan memiliki durasi kerja yang lebih panjang dibandingkan
midazolam. Diazepam dilarutkan dengan pelarut organic (propilen glikol, sodium
benzoat) karena tidak larut dalam air. Larutannya pekat dengan pH 6,6-6,9.
Injeksi secra IV atau IM akan menyebabkan nyeri.
Farmakokinetik pada diazepam cepat
diserap melalui saluran cerna dan mencapai puncaknya dalam 1 jam (15-30 menit
pada anak-anak). Kelarutan lemaknya yang tinggi menyebabkan Vd diazepam lebih
besar dan cepat mencapai otak dan jaringan terutama lemak. Diazepam juga dapat
melewati plasenta dan terdapat dalam sirkulasi fetus.
Ikatan protein benzodiazepine berhubungan
dengan tingginya kelarutan lemak. Diazepam dengan kelarutan lemak yang tinggi
memiliki ikatan dengan protein plasma yang kuat. Sehingga pada pasien dengan
konsentrasi protein plasma yang rendah, seperti pada cirrhosis hepatis, akan
meningkatkan efek samping dari diazepam.
Kelompok 1 tanpa perlakuan obat, mencit
pertama pada menit ke-10 dan ke-15 ada reaksi pada mencit yaitu jatuhnya dari
alat rotarod, sedangkan pada mencit kedua sama sekali tidak ada reaksinya itu
dikarenakan bobot mencit kedua terlalu ringan, lalu pada mencit ketiga itu ada
reaksi dan jatuhnya paling banyak dari mencit pertama dikarenakan bobot mencit
ketiga itu terlalu berat.
Kelompok 2 dengan obat CTM secara per
oral, mencit pertama pada menit ke-10 itu mengalami penurunan lama-kelamaan
akan mengalami kenaikan pada menit ke-60. Itu juga berlaku pada mencit kedua
dan ketiga. Pada kelompok ketiga dengan obat diazepam secara per oral, mencit
pertama pada menit ke-15 akan mengalami penurunan lalu padamenit ke-40 dan
ke-60 akan mengalami kenaikan. Jadi disini antara obat CTM dan diazepam yang
mempunyai efek sedative yang kuat yaitu diazepam.
VII.
KESIMPULAN :
Pada paktikum
kali ini kita dapat menyimpulkan sebagai berikut diantaranya yaitu :
1. Hipnotika
atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan
meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan
tidur.
2. Pada
praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh obat penekan susunan
syaraf pusat.
3. Dari
data pada kelompok di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian antara obat CTM
dan diazepam itu efek yang paling kuat sedatifnya yaitu diazepam.
4. Dari data ANNOVA, hasil yang diperoleh yaitu F
hitung (14,29)
> F tabel (5,14), Ho ditolak artinya ada perbedaan yang nyata antara
perlakuan tanpa obat, ctm dan diazepam
DAFTAR
PUSTAKA
Tjay,
T. H. dan Rahardja. K. (2002). Obat-Obat Penting. Edisi
Kelima Cetakan Kedua. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
H.
Sarjono, Santoso dan Hadi R D., 1995, Farmakologi dan Terapi, Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.
Djamhuri,
Agus., 1995, Sinopsis Farmakologi dengan Terapan Khusus di Klinik dan
Perawatan, Edisi 1, Cetakan Ketiga, Hipokrates, Jakarta.
Ganiswara,
Sulistia G (Ed), 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. Balai Penerbit
Falkultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
IX.
LAMPIRAN :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar